Gagal

karya: Tibyanuddin

Malam minggu, kebetulan malam itu aku kedatangan tamu, yaitu sepupuku Edi, yang ingin menghabiskan liburannya bersama denganku. Dia selalu datang kerumahku setiap malam minggu, yah seperti malam inilah.  Namun malam itu cuacanya sangat buruk, angin bertiuphembus dengan kencang ditambah dengan turunnya hujan. Keadaan ini membuat keluargaku cemas, mungkin karena terdapat di samping rumahku telah tumbuh dua pohon besar, mereka ketakutan pohon itu rubuh akibat angin yang kencang dan menimpa rumahku, usia pohon itu sudah lama, mungkin sudah puluhan tahun, ukurannya pun sangat besar dan menjulang tinggi. Tapi aku termasuk sepupuku tidak merasakan kecemasan seperti yang dirasakan keluargaku, kami hanya terdiam sambil asyik menonton tv. Ternyata makin lama cuaca semakin extrem, hujan yang tadinya turun tidak terlalu lebat berubah, terlihat diluar cahaya yang terang, namun cahaya itu hanya sesaat terlintas, aku, adik, dan sepupuku serentak menutup telinga, dan brakkkkk, terdengar suara yang seakan membelah langit membuatku takut.

“cepat matikan tivinya” respon ibuku terhadap suara guntur itu. Aku pun segera mematikan tivi yang tadi asyik ku tonton.  Tidak lama setelah kejadian itu, keadaan membaik, kupegang remote tivi bermaksud untuk melihat kembali acara yang tadinya ku tonton. “nanti dulu !!!!” ayah melarangku untuk manyalakan tivi yang tadinya asyik ku tonton. “iya pak,” aku pun mengurungkan niatku itu. Tak lama waktu berselang terlihat kembali kilatan diluar jendela. Kembali adikku menutup telinganya, namun tidak terdengar suara seperti keajadian tadi. “hah”, aku menghela nafas. Tapi, brakkkkkk,, bersamaan dengan suara itu keadaan di sekelilingku menjadi gelap , ternyata terjadi mati listrik. “aaaawwwwaaaahh,” luapan kekecewaanku akan kejadian malam ini.

Aku bermaksud menunggu hingga listrik kembali normal, namun ibu melarangku,“sudah dulu, nanti telat bangun salat“. pinta ibu. Aku dan sepupuku segera ke kamar, ternyata di kamar terlihat kakakku yang sudah keenakan tidur, dia membuatku tidak kebagian tempat.Aku pun membangunkannya, “Hei, bangun”, seruku. “ahhhhkkhh,” terdengar keluhannya. “geser dong, aku dan Edi tidak kebagian tempat nih !!!!” pintaku. “emmm”, kembali kakakku mengeluh sambil menggerakkan badannya”. Ternyata tidurnya semakin enak, mungkin karena perantara hujan  malam ini. Maklum, menurutku tidur kita akan semakin nyenyak jika terjadi hujan. Hal ini membuatku jengkel, ku ambil gulingan yang ada di sampingnya bermaksud untuk memukulnya dan membuatnya bangun, melihat hal yang ingin kulakukan terhadapnya, Edi hanya tersenyum. Dan “bug” dia pun segera bangun, namun anehnya dia tidak marah, mungkin karena mati listrik dia tidak melihat kami berdua. Akhirnya kami kebagian tempat deh.

“Yan, bagaimana kalau besok kita olahraga lari subuh?” ucap Edi sebelum dia tidur. “lari subuhnya kita kemana?” jawab aku.

“kita ke jembatan botto’e saja, bagaimana menurtmu?” kata Edi lagi.

“oke!!!!” ucapku yang menerima permintaannya.

.  .  .

“Woy, woy bangun, salat…. salat”, syahrum dan fuad kedua adikku membangunkan kami bertiga yang tertidur pulas.

Kubuka mataku perlahan, hari sudah mulai pagi, ternyata kami tidak jadi salat berjamaah di mesjid sesuai keinginan ibuku tadi malam. Kami tidak mendengar azan dikumandankan Dan ternyata kami juga tidak jadi lari subuh deh. Aku kembali menutup mataku berniat melanjutkan kembali tidurku. “ hey, pohon yang ada di samping rumah tumbang!!!!”, teriak syahrum adikku yang duduk di kelas 1 SMP. Kami bertiga serentak bangun dari ranjang dan berlari keluar rumah setelah mendengar ucapannya. Terlihat ayah dan tetangga sudah berkumpul dengan di depannya terbaring sebuah pohon “camace” yang ukurannya begitu besar menimpa jalan, pagar mesjid, dan lebih parahnya menimpa tiang listrik hingga tiang listrik itu ikut tumbang, pantas listrik sampai saat itu masih mati.

“ ah pantas kita tidak mendengar suara azan!!!!” kata kakakku.

“ rencana kita gagal nih, Yan???” kata Edi.

“ bagaimana kalau kita bantu ayah saja membereskan pohon ini???”

“ oke lah”. Jawab Edi.

Akhirnya kami mengubah niat kami untuk lari-lari. kami berniat membantu ayah untuk membereskan pohon itu, namun ibu terlebih dahulu menyuruh kami salat. Tak lama setelah kami selesai salat, terdengar suara ribut diluar, ternyata warga mulai berdatangan, teman-teman yang lain pun ikut berdatangan dan siap membantu.

Ternyata pohon itu tumbang akibat cuaca buruk tadi malam, menurutku pohon itu tumbang saat bersamaan listrik mati. Namun, pendapatku berbeda dengan ayah, dia bilang pohon itu tumbang kira-kira jam 01.00 dini hari, dan saat itu angin berhembus sangat kencang. Tak lama kemudian, keadaan mulai membaik, pohon itu sudah dibereskan dan listrik pun menjadi normal kembali.

Setelah kejadian ini, ayah mengambil inisatif untuk berniat membereskan satu  pohon lagi yang tersisa di samping rumahku, ukuran pohon ini lebih besar dibanding dengan pohon yang tumbang tadi. Untung ayah bertindak setelah melihat kejadian ini, mudah-mudahan kejadian ini tidak menimpa kami untuk kedua kalinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s